STORY

Menatap Masa Depan Pendakian Gunung di Sumatra Barat

Dalam pendakian Gunung Singgalang pada tanggal 8 – 9 Agustus 2014, saya menemukan sebuah fakta yang mengejutkan.

 

Di sekitar pelataran Telaga Dewi, saya menemukan sebuah botol air mineral yang menjadi sponsor Visit Asian Years 1993. Dari sampel tersebut tidak ada satupun bagian dari botol air mineral kemasan ini yang rusak, apalagi cacat karena sudah termakan usia (sampah itu seusia dengan saya bahkan lebih).

 

Fakta ini saya bagikan langsung ke akun Facebook saya dan menuai banyak komentar dari para penggiat alam bebas. “Sudah 21 tahun, botolnya masih awet, ya?”, begitu salah satu komentar dari seorang kawan di Facebook.

 

Dari fakta ini bisa digambarkan bahwa, pendaki gunung sudah mulai meninggalkan sampah di gunung sejak bertahun-tahun yang lalu. Proses pengurai materi sampah oleh tanah membutuhkan waktu yang cukup lama hingga benar-benar terurai oleh tanah.

 

Gunung dan bentang alamnya menjadi gambaran utuh bahwa, kelestarian alam sedang terancam dengan keberadaan sampah-sampah yang ditinggalkan oleh oknum pendaki gunung. Mungkin, pendaki gunung tersebut belum paham akan tugas dan perannya dalam upaya melestarikan, melindungi, dan memanfaatkan alam atau biasa disebut konservasi.

 

Trashbag Community (Komunitas Peduli Sampah Gunung) pernah melakukan kegiatan Operasi Bersih atau biasa dikenal dengan Sapu Jagad tahun 2015. Kegiatan tersebut dilakukan di 15 Gunung secara serentak se-Indonesia. Hasil kegiatan tersebut menemukan bahwa, sampah plastik lebih mendominasi yaitu sebesar 36% (769 kg) dan sampah botol plastik 15 % (491 kg).

 

Sampah yang mendominasi berikutnya yaitu puntung rokok 10 % (213 kg), tisu basah 9%, kaleng 7%, botol kaca 6%, kain 5%, dan sampah lainnya 4%. Total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 2,4 ton atau lebih dari 600 kantong.

 

It’s wow. Ada apa dengan gunung-gunung di Indonesia? Maksudnya, apa yang dipikirkan oleh para penggiat alam bebas dalam menyikapi masalah eksistensial dan intensional lingkungan serta nasib hutan dan gunung di Indonesia?

Baca Juga :   Gunung Bukan Tempat Sampah, Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak !!

 

Pertanyaan lain yang muncul seperti motivasi apa yang menyertai para pendaki gunung dalam melakukan pendakian, sehingga permasalahan pendakian cukup membahayakan nasib hutan dan gunung di Indonesia, khususnya dalam rentang waktu 2012-2019 ini?

 

Perlu untuk memahami kembali bahwasanya dalam dunia pendakian, pendaki gunung juga perlu menggerakkan dan menerapkan upaya pendakian yang memahami konsep konservasi. Bagaimana seharusnya cara pendaki gunung dalam menerapkan pendakian yang memahami konsep konservasi?

 

Menyikapi semakin digandrungi kegiatan pendakian gunung di Indonesia khususnya di Sumatra Barat, namu tidak diimbangi dengan beberapa pegangan yang seharusnya sudah diterapkan dalam pendakian gunung. Pendaki yang memiliki pemaham tentang konservasi dapat meminimalisir kerusakan lingkungan.

 

Konservasi paling sederhana adalah dengan membawa semua sampah yang dibawa saat pendakian turun kembali. Namun kenyataannya sangat memilukan. Beberapa gunung di Sumatra Barat seperti Gunung Marapi, Gunung Talang, dan Gunung Singgalang menjadi korban atas ketidakpahaman pendaki gunung.

 

Perlu peninjauan mendalam untuk mencari tahu, mengapa gunung-gunung di Sumatra Barat tercemar oleh sampah-sampah yang jenisnya beragam. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penerapan pendakian yang memahami konservasi:

  1. Adanya wadah dan ruang untuk membicarakan perihal pendakian yang menerapkan konsep konservasi secara tentatif dan berkelanjutan.
  2. Pentingnya memahami berapa lama proses penguraian sampah oleh tanah dan dampaknya.
  3. Tingkat antusiasme pendaki gunung untuk mempelajari dan memahami arti penting pendakian yang menerapkan pemahaman konservasi
  4. Keterlibatan pihak terkait dalam upaya penerapan pendakian yang menerapkan pemahaman konservasi, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan juga kelompok, lembaga dan organisasi yang konsisten menyuarakan konservasi dan kepedulian terhadap lingkungan.
  5. Keterbukaan pihak posko pendakian dan pengelola gunung dalam memuluskan penerapan nilai konservasi dalam berbagai aspek lingkungan.
  6. Keterlibatan masyarakat di kaki gunung dalam mewujudkan gunung-gunung bebas dari sampah.
Baca Juga :   Sebuah Solusi Untuk Permasalahan Sampah Gunung di Indonesia

 

Inti dari semuanya ini adalah keseriusan berbagai pihak untuk menyikapi permasalahan sampah di gunung. Dampak yang sangat dirasakan saat ini adalah terganggunya siklus rantai makanan hewan yang hidup di hutan, seperti yang sudah terjadi di Gunung Talang, Kabupaten Solok.

 

Babi Hutan sudah berkeliaran dengan bebasnya di kawasan Camping Ground dan mengincar, bahkan mengonsumsi makanan-makanan yang dibawa oleh pendaki gunung. Lebih brutalnya, babi hutan menjebol tenda pendaki hingga robek untuk mendapatkan makanan tersebut.

 

Hal ini terjadi karena pendaki gunung meninggalkan sisa makanan begitu saja dan memicu babi hutan untuk mengonsumsinya. Sejak beratnya permasalahan sampah gunung, pola rantai makanan babi hutan mengalami pengalihan jenis makanan dan babi hutan tidak takut lagi berhadapan dengan pendaki gunung.

 

Lain halnya dengan babi hutan, ketersedian sumber air di gunung tak lepas dari ancaman bahaya sampah anorganik yang ditinggalkan pendaki gunung. Bukan tidak mungkin, sumber air ini mengalir ke kaki gunung dan digunakan oleh masyarakat di sekitar kaki gunung untuk kegiatan sehari-hari.

 

Mikro partikel sampah akan membuat air menjadi terkontaminasi secara regeneratif dan dalam jangka waktu yang panjang, air yang terkonsumsi oleh manusia akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia. Fakta di atas harus ditanggulangi secara dini melalui tindakan pendakian yang menerapakan pemahaman tentang konservasi.

 

Dengan cara yang tepat, seperti membawa sampah turun ketika melakukan pendakian dapat mengubah kembali kondisi yang terjadi dewasa ini sebagaimana mestinya. Sebagai pendaki gunung dan pejuang pendakian yang menerapkan konsep konservasi, secara mandiri bisa menjadi contoh yang baik bagi pendaki gunung yang lainnya.

 

Melalui metode Action, Education, dan Controlling yang diterapkan oleh Trashbag Community dalam mewujudkan “Gunung Bukan Tempat Sampah” di gunung-gunung yang ada di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat bisa tercapai dengan baik. Agar tidak meninggalkan tahapan-tahapan penting untuk terwujudnya pendakian yang paham akan konsep konservasi pada diri pendaki gunung.

Baca Juga :   Gunung Bukan Tempat Sampah, Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak !!

 

Pihak posko pendakian gunung menjadi faktor yang penting sekali dalam penerapan pendakian yang memahami nilai-nilai konservasi. Penegasan dan aturan-aturan yang dibuat oleh pihak posko pendakian akan membangkitkan rasa tanggung jawab pendaki gunung dalam mewujudkan “Gunung Bukan Tempat Sampah”.

 

Seperti di Gunung Talang, pihak posko secara mandiri telah menegaskan permasalahan sampah kepada para pendaki gunung dan secara sadar semua pendaki Gunung Talang via Aia Batumbuak membawa sampahnya turun dan diserahkan kepada pihak posko pendakian untuk penanganan akhirnya.

 

Hasilnya, kondisi Gunung Talang sudah jauh berubah dan tidak ada sampah yang bertebaran di gunung walaupun belum 100%. Trashbag Community DPD Sumatra Barat bersama pejuang konservasi pendakian yang berasal dari berbagai KPA, Mapala, dan Forum Independen konsisten melakukan pendekatan secara intensif untuk penanggulangan sampah di gunung dan pendekatan secara edukatif kepada para pendaki gunung, merangkul mereka menjadi pendaki yang menerapkan konsep konservasi. Berbagai kegiatan berbasis konservasi-edukatif telah dilaksanakan baik dalam skala regional maupun nasional.

 

Di akhir esai ini, saya ingin mengajak seluruh pendaki gunung, mari menjadi Green Warrior untuk kelestarian gunung karena gunung bukan tempat sampah. Jangan sampai kelak, anak dan cucu kita melakukan pendakian gunung dan bertanya kepada kita : “Orang bodoh mana yang sudah meninggalkan warisan yang memilukan seperti di gunung”.

 

Tidak bisa meninggalkan posko pendakian secara mandiri untuk menanggulangi permasalahan pendakian, ada peran kita sebagai pendaki yang memiliki pemahaman tentang konservasi untuk mewujudkan gunung-gunung di Indonesia dan di Sumatra Barat bebas dari sampah dan membebaskan hutan dan gunung dari bahaya sampah plastik dalam jangka panjang. Be A Green Warrior!

 

Ditulis oleh Rozi Erdus DPD Sumatra Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.